Powered By Blogger

Kamis, 01 November 2012

Jilbab, Bikin Bule Pada Nengok

Saya berlari. Jam sudah menunjukkan pukul 08.25 dan kelas dimulai pukul 08.30. Alhamdulilah sambil ngos-ngosan keburu juga masuk kereta. Berdiri sambil sambil benerin ransel saya sadar kalo bule-bule disekeliling saya lagi pada ngeliatin. Yaaahh, ini bukan pertama kalinya. Setiap hari saya selalu pergi dengan menggunakan U-Bahn (kereta bawah tanah) dan setiap hari juga bule-bule merhatiin saya. Mungkin karena saya berbeda dengan mereka. Saya memakai jilbab.
Eropa memang sempat dilanda Islamophobia, yaitu suatu pobia atau ketakutan terhadap apapun yang berhubungan dengan Islam. Hal itu terjadi sejak kecelakaan pesawat di WTC tahun 2001 lalu. Namun seiring dengan berjalannya waktu nampaknya pobia itu tidak seekstrim dulu. 
Disini saya banyak bertemu dengan orang-orang yang memakai jilbab. Kebanyakan adalah orang Turki. Selain itu disini, dikota saya tinggal, Nürnberg, juga terdapat 11 masjid. Walaupun demikian memang masih ada semacam "keheranan" mungkin dibenak orang-orang non Islam. Terutama jika melihat muslim yang memakai kerudung. Tetapi itu tidak menjadi masalah bagi saya. Di kota ini Alhamdulilah masyarakatnya pengertian dan toleran terhadap agama.
Banyak teman-teman saya disini yang bertanya mengapa saya memakai kerudung. Dan yang paling lucu adalah ketika salah satu teman saya bertanya apa yang saya lakukan dengan rambut saya. Mereka pikir saya botak kali yaahh. Hihiiihiii... Selain itu juga ada yang bertanya "kalo udah nikah masih pake kerudung?". Heuuu kalo yang nanyanya orang Indonesia pengen banget jawab "Ya iyalaaaaahhh masa ya iya dong!". Tapi sayang yang nanyanya bule, ga bakal ngerti :D Ditanyain masalah jilbab sama bule bukannya bikin kesel, malah bikin ngakak karena pertanyaan mereka yang polos.
Tapi satu kebahagiaan menjadi seorang muslim di negara non muslim adalah ketika kita bertemu dengan sesama muslim dan saling mengucap salam. Sungguh luar biasa. Rasanya berbeda seperti kita mengucap salam di Indonesia. Nampaknya selain menjadi penutup aurat, jilbab juga menjadikan kita bahan perhatian bagi mereka yang bukan muslim, terutama jika kita tinggal dinegara non Islam. 
Berasa artis diliatin ^_^

Mesin Tempur, Si Metal Gokil

Siang ini saya dibuat *selalu* tertawa oleh band metal asal kota Bandung yang suka pake topeng.
Yup. Siapa lagi kalo bukan Mesin Tempur!!! Temen-temen pecinta underground pasti udah pada tahu kan yah.
Saya sangat suka dengan band yang satu ini karena mereka unik, edan, gokil, gelo pokokna mah :D
Mungkin Mesin Tempur adalah satu-satunya band metal yang bisa membuat semua orang yang mendengar lagunya dan melihat penampilannya tertawa terbahak-bahak.
Beberapa tahun kebelakang kita masih penasaran ya sama sosok-sosok dibalik topeng itu. Bisa dibilang Mesin Tempur tuh Slipknot-nya Indonesia ;) Tapi sekarang Alhamdulillah udah bisa liat wajah-wajah jelema garelo eta. Hahaha


Selain karena penampilan nyentriknya, yang bikin Mesin Tempur unik adalah lagu-lagu mereka yang nyeleneh. Kaya lagu Becak Tiguling, Hip Hop Suck, Mari Membaca, Supir Angkot Goblog dan yang terbaru nih lagu Kuis Cangcut. Hahaha...... Pokoknya dijamin hayang ngompol weh kalo dengerin :D
Selain liriknya nyeleneh, durasi setiap lagu Mesin Tempur juga pendek-pendek, antara 1-3 menit. Dan mereka ngebuat albumnya live performance. Sesuatu yang jarang dilakukan oleh band metal Indonesia.
Baru dengerin lagunya aja udah ngakak, apalagi ngeliat penampilannya langsung. Mesin Tempur ini hobi ngebagi-bagi jajanan ke penonton kalo lagi perform, kaya ciki, coki-coki atau mie instan. Bahkan waktu itu pernah ngebagiin cangcut pas mereka bawain lagu Kuis Cangcut.  Bener-bener gokil deh!!!
Gak ada lagi bang metal yang super nyeleneh senyeleneh Mesin Tempur.
Hidup Mesin Tempur!
Keep metal dan insane!!!
Oya, temen-temen bisa follow akunnya mereka di @MesinTempur420. Pantengin TLnya dan selamat ngakak :D

@ungodamn

Minggu, 28 Oktober 2012

Hari Sumpah Pemuda. Berani Bersumpah untuk tidak Alay???





Pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat hari sumpah pemuda bagi seluruh pemuda pemudi di Indonesia.

Begitu banyak hari ini para pemuda yang mengucapkan selamat atas hari bersejrah itu. Namun yang jadi pertanyaan apakah mereka, kami semua telah benar-benar memahami arti dari sumpah pemuda itu sendiri?


SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928


Lihatlah. Bacalah. Resapi dan pahamilah. Sungguh luar biasa isi sumpah pemuda. Betapa para pemuda dahulu mempunyai cita-cita yang sangat luhur dan mulia. Betapa mereka peduli akan kemajuan negeri ini. Betapa mereka mempunyai keinginan yang kuat untuk menjadikan negeri ini lebih baik. Betapa mereka bersatu untuk mencapai keinginan yang sama.
Tapi lihatlah cermin pemuda pemudi sekarang? Apakah mereka memiliki cita-cita seluhur dan semulia  para seniornya? Apakah mereka memiliki kepedulian akan kemajuan negeri ini? Apakah mereka mempunyai semua itu?
Saya sering merasa sedih dan kecewa melihat tindak tanduk para pemuda sekarang. Mereka sering terlena akan kesenangan yang mudah mereka dapatkan. Mereka seakan lupa bahkan tidak tahu tentang perjuangan para pemuda dahulu dalam merebut kemerdekaan bangsa Indonesia.
Pertama, dalam teks sumpah pemuda dikatakan "Kami putra putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia". Jika kita kaji kalimat tersebut sunguh betapa dalam makna yang ingin disampaikan kepada para pemuda Indonesia. Sungguh indah rasanya jika semua penerus bangsa ini menanamkan kalimat itu pada dirinya. Bertumpah darah satu, tanah air Indonesia! 
Namun sekarang tampaknya hal itu sudah tidak berlaku lagi bagi para pemuda. Mereka tinggal di Indonesia, tetapi tidak "memiliki" Indonesia. Sekarang ini banyak sekali diantara mereka yang melakukan kekerasan, perkelahian, tawuran dll. Yang menarik untuk disoroti disini adalah para pelaku tawuran yang justru dilakukan oleh anak sekolah. Bayangkan, betapa anak didik yang seharusnya dapat menjadi bibit unggul untuk meneruskan perjuangan para pahlawan justru menodai amanah tersebut. Mereka merasa bangga. Mereka merasa bebas. Mereka merasa kuat dan benar. Padahal mereka sangat menyedihkan. Seharusnya mereka merasa malu. Malu karena memukul bangsa sendiri, malu karena bertindak anarkis mengenakan seragam sekolah, malu karena merugikan banyak orang, malu karena membuat orang tua merek akhawatir, malu karena mereka tidak memperjuangkan apapun dengan tawuran. Tapi yang saya lihat sekarang justru mereka bertingkah sok jago. Mungkin, jika Soekarno atau Hatta masih hidup mereka akan menangis. Mereka akan sangat bersedih melihat para generasi penerusnya menyakiti bangsa sendiri. Padahal perjuangan mereka untuk merebut kemerdekaan bukan perkara mudah. Perjuangan itu mengorbankan waktu, tenaga, pikiran bahkan nyawa sekalipun. Coba hitung berapa banyak orang-orang dulu yang rela mati menginggalkan keluarga demi satu kata, "Merdeka"?! Seharusnya itu semua menjadi api bagi kita. Api untuk membakar semangat kita dalam memajukan negeri ini. 
Kedua, teks sumpah pemuda berisi "Kami putra putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia". Bangsa Indonesia!
Coba bayangkan teman, senior kita dahulu bangga menyebut diri mereka bangsa Indonesia. Makna dari bangsa itu sendiri yang berarti memiliki kesamaan identitas membuat mereka bersatu. Tapi coba teman semua perhatikan, sekarang ini banyak pemuda pemudi yang tidak merasa bangga berbangsa Indonesia. Mereka merasa malu menyebut diri mereka bagian dari bangsa Indonesia. Padahal masa depan bangsa ini sepenuhnya berada ditangan mereka. Senyuman adik-adik kita dan senyuman para leluhur kita disana tak akan terjadi tanpa perjuangan kita. Saya ingin bertanya, apa yang membuat teman-teman semua merasa malu menjadi bagian dari bangsa Indonesia? Malu karena banyak orang melakukan korupsi? Malu karena tingat kemiskinan sangat tinggi? Malu karena banyak anak muda yang putus sekolah? Malu karena sarana, prasarana dan infrastruktur negeri ini masih sangat jauh dari layak? Malu karena setiap hari banyak kejahatan? Malu karena banyak teman-teman kita yang memakai narkoba? 
Ya memang benar. Memang kita harus  merasa malu akan semua itu. Merasa malu karena bangsa ini telah banyak ternoda. Tetapi yang perlu teman-teman semua ketahui bahwa, kitalah yang harus merubah semua itu. Kitalah yang harus menghapus semua noda itu agar anak-anak kita nanti tidak lagi merasa malu menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Agar anak-anak kita nanti dapat membusungkan dada dan berteriak lantang "Saya bangga menjadi anak Indonesia!".
Ketiga, kalimat indah teks sumpah pemuda berbunyi "Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia". 
Ini menjadi sangat menarik karena dewasa ini Indonesia telah diserang wabah bahasa yang menurut saya sangat menjijikan, yang mereka sebut bahasa alay dan mereka bangga menggunakan bahasa tersebut. Jika kita sekali lagi meresapi makna dari kalimat terakhir sumpah pemuda tersebut sungguh terkandung makna yang sangat luhur. Para pemuda dulu ingin menyatukan orang Indonesia melalui bahasa. Mungkin salah satunya karena Indonesia memiliki beragam bahasa. Setiap orang berbicara dengan bahasa daerahnya masing-masing sehingga perlu adanya satu bahasa yang bisa menyatukan mereka semua, yaitu bahasa Indonesia.
Tetapi justru sekarang hal itu nampaknya sudah tidak berlaku lagi bagi para pemuda. Para pemuda zaman sekarang lebih senang menggunakan bahasa alay. Entah dari mana asalnya dan siapa penemunya yang pasti saat ini bahasa alay menjadi sangat populer. Saya sebenarnya tidak akan merasa jijik kepada mereka yang menggunakan bahsa lain selain bahasa Indonesia. Saya justru senang melihat para pemuda yang bisa menguasai bahasa Inggris, bahasa Jerman, Prancis, Arab, Jepang. Saya pikir itu adalah suatu bentuk kemajuan bagi para pemuda. Tapi yang membuat saya jijik dan marah disini karena bahasa alay merusak ejaan bahasa Indonesia yang telah disempurnakan. Mereka yang menggunakan bahasa alay seakan mengolok-olok bahasa mereka sendiri yang seyogianya mereka jaga dengan baik, bukan dirusak. Saya sering menemukan kalimat-kalimat di berbagai media sosial dengan bahasa alay dan saya sering tidak bisa membaca kalimat tersebut. Entah karena saya bodoh atau karena kalimat tersebut dibuat sedemikian kreativ oleh si penulis. Tapi pleaseeee saya mohon, kreatiflah dalam hal positif. Jika teman-teman memang harus alay, pleassseee jadikan alay itu alay yang positif. Jangan teman-teman jadikan diri dan kelakuan teman-teman menjadi pengotor negeri kita tercinta ini. Kalu teman-teman kaji lebih dalam lagi, sungguh sangat banyak hal-hal dan kegiatan positif yang bisa kita lakukan.
Saya sering merasa terharu, bahagia dan bangga ketika melihat ada para pemuda yang rela berkotor-kotoran demi membantu korban bencana alam, rela mengorbankan uang saku demi membeli buku-buku yang bermanfaat bahkan rela meninggalkan segala macam kemewahan dan keluarga demi mengajar didaerah pedalaman. Setidaknya saya masih bisa tersenyum, saya masih memiliki kawan yang mau membuat perbaikan negeri ini. Ternyata masih ada segelintir pemuda pemudi yang masih memiliki kepedulian terhadap bangsa Indonesia. Semoga nasionalisme tidak terasa hanya pada saat hari bersejarah, tetapi nasionalisme senantiasa terasa dalam setiap denyut nadi kita.
Harapan saya dihari sumpah pemuda ini adalah satu. Jadikan para pemuda pemudi Indonesia menjadi satu. Satu dalam semangat. Satu dalam kebanggaan. Satu dalam perjuangan. Satu dalam jiwa dan raga. Satu dalam tanah air Indonesia. Satu dalam bangsa Indonesia. Satu dalam bahasa Indonesia. Satu dalam menjadikan negara ini disegani dan dihormati oleh negara lain.
Merdeka para pemuda!
Kobarkan api semangat kita untuk senyuman generasi berikutnya!
Merdeka Indonesia!
Merdeka pemuda pemudi Indonesia!
Selamat bejuang kawan :)




   

Sabtu, 27 Oktober 2012

Apa Itu Menulis

Menulis itu menjadi wakil ketika mulut sudah tak mampu berucap.
Menulis itu membiarkan jari menari diatas kertas atau keyboard.
Menulis itu menjadikan jari dan pikiran berteman.
Menulis itu menyatukan ide-ide menjadi utuh.
Menulis itu membiarkan orang lain membaca pikiran kita tanpa harus kita berbicara.
Menulis itu bermanfaat bagi banyak orang.
Menulis itu membuat kepala pecah. Benar. Apalagi kalau menulis skripsi atau tugas akhir.
Menulis itu nikmat.
Menulis itu guru yang baik bagi sabar.
Menulis itu bisa dilakukan semua orang. Sarjana, tukang becak, ibu rumah tangga, tukang koran bahkan anak-anak.
Menulis itu sulit? Ya.
Menulis itu gampang? Ya.
Menulis itu menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran.
Menulis itu menjadikan seseorang dikenang.
Menulis itu menjadikan seseorang dibenci.
Menulis itu tentang konsentrasi.
Menulis itu membuat frustasi.
Menulis itu nikmat.
Menulis itu meluapkan isi hati.
Menulis itu berimajinasi tanpa batas.
Menulis itu menjadi identitas.
Menulis itu mengangkat derajat seseorang.
Menulis itu hobi.
Menulis itu tuntutan.
Menulis itu menghasilkan sesuatu.
Menulis itu penyakit.
Menulis itu mengotori bersihnya kertas.
Menulis itu menghabiskan tinta.
Menulis itu latihan.
Menulis itu cita-cita.
Menulis itu mata pencaharian.
Menulis itu menularkan perasaan kita kepada orang lain.
Menulis itu kebebasan.
Menulis itu menjadikan ucapan menjadi bacaan.
Menulis itu magic.
Menulis itu membawa tangisan, senyuman, kesedihan dan kebahagiaan bagi orang lain.
Menulis itu untuk seseorang.
Menulis itu melahirkan kontroversi.
Menulis itu bisa dimana saja dan kapan saja.
Menulis itu banyak medianya.
Menulis itu dianggap mimpi buruk.
Menulis itu membuat kita memandangi lampiran kertas kosong.
Menulis itu nikmat.
Menulis itu pamer.
Menulis itu bencana.
Menulis itu memilih kata.
Menulis itu bisa menjadi syair.
Menulis itu keindahan.
Menulis itu mengantarkan seseorang pada impian.
Menulis itu membuat orang lain tertidur.
Menulis itu tantangan.
Menulis itu membuat nyaman.
Menulis itu hening.
Menulis itu menyebalkan.
Menulis itu membosankan.
Menulis itu kepuasan.
Menulis itu menyatukan kata demi kata menjadi kalimat.
Menulis itu cukup satu kata.
Menulis itu membuat mata dan tangan lelah.
Menulis itu membuat hati dan perasaan bahagia.
Menulis itu membutuhkan banyak referensi.
Menulis itu asal.
Menulis itu mengutip.
Menulis itu awal dari impian.
Menulis itu penting.
Menulis itu biasa saja.
Menulis itu penyemangat.
Menulis itu melupakan yang lain.
Menulis itu berbagi.
Menulis itu kerja sama.
Menulis itu tindakan.
Menulis itu alasan.
Menulis itu cinta.
Menulis itu diam.
Menulis itu marah.
Menulis itu air mata.
Menulis itu cara, ketika imajinasi dan realita menjadi satu 


@ungodamn

Resep Ayam Simple Enak : "Ayam Salju"

Hallo semuaaaa... kali ini saya mau berbagi resep ayam nih. Masaknya gampang dan rasanya insyaalloh enak deh ^.^
O ya, saya ngasih nama Ayam Salju karena kebetulan hari ini hari pertama turun salju dan hari pertama juga saya ngeliat salju secara langsung. heheee... Jadi pas masak dan makan ayam sambil ngeliatin turunnya salju :)
Oke, here is the recipe. cekidooott...

Bahan :
1 dada ayam potong dadu
1 buah wortel potong bulat
3 buah jamur kancing potong menjadi 4 bagian
1 sendok makan butter
2 sendok makan olive oil
1/4 bagian bawang bombay
1 sendok makan saus cranberry
2 sendok makan tomat kaleng
1 sendok makan perasan jeruk nipis
setengah gelas susu cair murni
1 sendok makan keju kambing
garam secukupnya
sedikit merica

Cara membuat :
1. Panaskan butter dan olive oil, masukan irisan bawang bombay. Setelah harum, masukan ayam, jamur dan jeruk nipis. Aduk hingga ayam berubah warna.
2. Masukan semua sisa bahan kecuali wortel. Aduk hingga saus mengental dan ayam matang. Terakhir masukan potongan wortel, aduk sebentar hingga rata.
Ayam salju pun siap dihidangkan!
Selamat mencoba :)


Guten Appetit!!! :D

Jumat, 26 Oktober 2012

My First Thanksgiving

Apa sih artinya thanksgiving itu? Saya juga gak tahu ^__^
Ini adalah pengalaman pertama saya merayakan thanksgiving, walaupun bukan di USA, tapi di Jerman. Yup, thanksgiving memang  berasal dari negeri paman Sam. Kebetulan di Jerman ini saya tinggal bersama orang Kanada, jadi kali ini saya ikut merayakan thanksgiving. Dan ternyata thanksgiving adalah sebuah tradisi orang Amerika untuk berkumpul bersama keluarga dan bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan. Mmmm.. mirip kaya lebaran kali yah kalo di Indonesia.
Berhubung kami disini tidak punya keluarga, alhasil teman-temanlah yang diundang. Beberapa orang asal Kanada dan tentunya teman asli Jerman. Karena kami menjadi tuan rumah, jadinya udah dari 1 hari sebelum perayaan kami sibuk mempersiapkan semuanya, mulai dari dekor ruangan, belanja, milih wine paling enak, bikin kurbis (ituloohh... labu orange yang digambarin wajah, paling beken pas halloween) dan yang paling ribet masak. Ada sup labu, sayuran, cemilan, kentang, jagung schotel, roti, macem-macem saus dan yang paling penting nih, yang jadi ciri khas thanksgiving, kalkun dan pie. Woooooooo :O
Ternyata masak kalkun itu ribet. Selain karena ukurannya yang jumbo, bumbunya juga banyak. Tapi beeeuuu...rasanya emang mantep! Enak bangeeettt. Kalo di Indonesia biasanya orang makan daging sama saus cabe yang super pedes, tapi disini beda. Kami makan kalkun pake saus cranberry yang rasanya asem manis (menurut saya itu lebih cocok disebut selai untuk roti daripada saus untuk daging). Tapi well, enak-enak aja kok :D Justru itu yang bikin rasanya menarik. Selain aroma wine yang khas dikalkunnya (soalnya masaknya pake wine), rasa daging kalkunnya yang gurih ditambah saus beri asem manis bikin mulut ga berhenti ngunyah si kalkun. Dan ini adalah kali pertama saya juga merasakan pie labu. Aromanya sangat-sangat kuat dan  warnanya pekat. Begitu dimakan.... Hmmm ga enak!!! :'( Saya gak suka pie labu!!! Saya gak bisa mendeskripsikan gimana rasanya karena buat saya itu sangat-sangat aneh. Perpaduan antara labu yang benyek, dicampur pala yang rasanya kuat, terus ditambah banyak rempah-rempah lain, bikin rasanya gak matching banget. Karena pie itu disajikan buat dessert, ya mau ga mau harus abis. Mana potongannya gede banget lagi. Rasanya udah mau muntah, udah gak berani ngunyah deh. Takut dianggep gak sopan, terpaksa deh diabisin. Pas ditanya "gimana enak?" "hehe..enak kok enak" sambil nahan pengen muntah. Ntah pucat atau tidak wajah saya waktu itu *semoga tidak*. Kapok deh pokoknya makan pie labu.
Dari semua acara thanksgiving yang paling berkesan  buat saya adalah pas bikin kurbis. Udah dipotpng wajahnya terus dipasangin lilin didalemnya, jadi pas dinner labunya nyala. Bagus bangeett ^.^ O ya, satu lagi nih kebiasaan orang Amerika kalo diundang ke acara thanksgiving, ngasih wine ke tuan rumah. Alhasil malam itu kami dapet banyak sumbangan wine. Dan yang paling banyak adalah wine asal Prancis, Bordeaux. Kami pun mengahabiskan  waktu bersama dengan mengobrol sampai malam. Malam itu jadi malam indah thanksgiving pertama saya (kecuali si pie labu!!!).
Hidup dinegeri orang menjadikan kita mengetahui berbagai macam budaya dan tradisi secara langsung.
Happy Thanksgiving all :')



Kamis, 25 Oktober 2012

Idul Adha di Negeri Bastian Schweinsteiger

Tahun ini adalah tahun pertama saya hijrah ke eropa. Artinya ini juga tahun pertama saya tidak merayakan idul adha bersama keluarga. Jauh dari keluarga, jauh dari orang-orang yang disayangi itu memang sulit. Hari-hari biasa memang terasa baik-baik saja dan menikmati rutinitas disini. Namun ketika  hari istimewa datang, Idul Adha, semuanya terasa berbeda. Semuanya terbalik begitu tiba-tiba, terutama ketika malam datang. 
Disini sepi. Disini hanya ada gelap dan lampu. Disini tidak ada suara takbir berkumandang. Disini tidak ada anak-anak yang dengan ceria memukul bedug. Disini tidak ada suara petasan. Disini tidak ada bau harum daging. Disini hanya ada sepi. Disini hanya ada malam. Malam seperti biasa. Malam dimana orang melepas lelah dan penat.
Sungguh malam ini saya sangat merindukan suasana negeri saya tercinta, Indonesia. Suasana ramah ala negeri timur yang santun dan ceria. Suasana kebahagiaan menyambut hari raya Idul Adha. Suasana hangat berkumpul bersama keluarga. Saat-saat seperti itu yang membuat saya merasa sangat kehilangan. Merasa ada sesuatu yang kurang. Memang disini ada masjid. Disini ada orang Islam. Disini juga bisa sholat id berjamaah. Tapi tetap rasanya berbeda. Mungkin karena selama 19 tahun saya selalu merayakan hari raya bersama keluarga, sehingga sekarang ketika harus terpisah jauh dari keluarga saya merasa sangat kehilangan. 
Ketika saya membaca status teman-teman, sahabat dan keluarga di media sosial, rasanya saya begitu iri kepada mereka. Mereka begitu bahagia menyambut datangnya Idul Adha bersama orang-orag terkasih. Semuanya tampak tersenyum. Semuanya tampak ceria. Semuanya bahagia. Rasanya saya ingin menangis. Rasanya saya ingin malam ini juga pulang ke Indonesia. Tapi saya harus tahan. Saya tidak bolah cengeng. Saya harus kuat. Ini pun demi keluarga saya. Demi membahagiakan dan membuat mereka bangga. Lagipula saya tidak benar-benar sendiri. Saya mempunyai Alloh yang senantiasa selalu menamani saya kemana dan dimana pun saya berada. Begitu pun dengan malam Idul Adha kali ini. Saya bersama Alloh.
Saya tidak ingin kalah dengan teman-teman yang ada di Indonesia, yang sedang mengumandangkan takbir. Saya pun akhirnya mendengar dan melantunkan takbir lewat You Tube. Dan Subhanalloh... Ketika gema takbir berkumandang, seketika itu juga air mata saya mengalir. Ada semacam aliran dalam tubuh saya mengejangkan seluruh nafas dan hati saya. Suara takbir itu begitu menyentuh saraf-saraf saya. Sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya ketika mendengar takbir dirumah. Kali ini entah mengapa ada semacam rasa takut. Seperti ada sesuatu yang mengetuk saya. Semacam perasaan menyesal dan  bersalah merasuki saya. Saya termenung dan berpikir. Ya Alloh... Mungkin Engkau menyuntuh ku dengan cara aku jauh dari keluarga. Mungkin ini caramu agar aku lebih menghargai sesuatu.
Dari kejadian ini saya mendapat sesuatu. Saya menjadi sadar bahwa kebahagiaan dan kenikmatan itu sungguh dua hal yang berbeda. Hidup dinegara maju memang sebuah kenikmatan. Disini segala sesuatu dapat kita raih dengan mudah. Tapi kebahagiaan tidak. Kebahagiaan itu begitu sederhana. Kebahagiaan itu ketika kita bisa berada ditengah keluarga. Kebahagiaan itu ketika kita bisa tersenyum dan tertawa bersama keluarga. Kebahagiaan itu ketika kita bisa memeluk kedua orang tua kita. Sungguh sangatlah beruntung dan bersyukur orang-orang yang malam ini bersama keluarganya merayakan hari raya Idul Adha. Sungguh kalian jangan pernah menyia-nyiakan waktu kalian dengan keluarga kalian, terutama dengan orang tua kalian. Kalian akan merasakan kerinduan itu ketika kalian jauh dari mereka. Ketika kalian hanya bisa mendengar suara mereka melalui telepon.
Saya bersyukur dan berterimakasih kepada Alloh SWT karena telah memberikan kesempatan luar biasa kepada saya untuk bisa pergi kenegara impian saya, Jerman. Saya juga bersyukur karena dengan ini saya mendapat bayak pelajaran berharga, pelajaran kehidupan, pelajaran yang tidak pernah saya dapat dikelas. Saya jadi semakin tahu arti kebersamaan. Betapa saya tidak boleh menyia-nyiakan waktu. Betapa keluarga itu penting. Disini Alloh SWT mengajari saya untuk sabar, untuk ikhlas, untuk mau berjuang, untuk bisa menahan godaan dan untuk selalu berada dijalan-Nya. Ini hanya bagian kecil dari perjuangan hidup. Ini hanya bagian kecil dari perjalanan menuju cita-cita. Ini hanya kerikil kecil dijalan menuju senyuman ibu dan ayah. Don't ever give up cuz live will go on!!!

Selamat merayakan Idul Adha untuk seluruh saudara muslim dan muslimah diseluruh dunia. Alloh bless you all :)