Mengapa saya mendaki gunung? Mengapa tidak diam saja dirumah dan menonton TV?
Bukankah gunung itu panas? Membuat badan bermandikan keringat, tersengat
teriknya matahari dan membuat kulit hitam? Pertanyaan itu mungkin pernah
terbersit dalam diri setiap pendaki. Namun saya yakin, mereka memiliki jawaban
yang bukan sekedar memberikan alasan atas pertanyaan-pertanyaan diatas, namun
jawaban yang hanya dimengerti oleh mereka yang pernah menjejakkan kakinya
diatas gunung.
Banyak orang yang sering bilang “Kenapa sih kamu sering naik gunung? Apa
enaknya naik gunung? Capek-capek naik terus turun lagi.
Mending diem dirumah, main games atau ke mall. Gak usah cape-cape” atau “Ya
ampuun…udah naik gunung lagi?”. Bahkan ada juga yang bilang “Ikut maen sama si
Ungo berarti nyiksa badan. Bukan liburan namanya kalo ke gunung!”. I just can
put a smile on my face :)
Well, sebenernya wajar
mereka berbicara seperti itu, karena jika dipikir lagi memang benar untuk apa
capek-capek naik gunung, bersusah-susah memeras keringat, lalu turun lagi
kebawah. Tapi itu adalah pemikiran yang dilontarkan hanya dari melihat covernya
saja. Bukankah kita diajari untuk selalu melihat sesuatu dari sudut pandang
yang lain? Seperti kata Sudjiwo Tedjo “Lihatlah sesuatu dari perspektif yang
orang lain tidak lihat”. Begitu juga dengan naik gunung. Mereka tidak akan
mengerti nikmatnya menapaki kaki langkah demi langkah menuju daratan yang
semakin tinggi sebelum mereka mencobanya sendiri.
Alam mengajarkan kita ilmu. Ilmu tentang kehidupan. Ilmu yang tidak pernah
secara rinci diajarkan disekolah. Bahkan berinteraksi dan mengenal Sang
Pencipta secara lebih dekat pun dapat kita dapat dialam. Alam membutuhkan kita
dan kita membutuhkan alam. Itu adalah simbiosis mutualisme yang tidak bisa
dielakkan. Jadi sebenarnya jawaban atas pertanyaan itu sudah dijawab oleh semua
makhluk hidup didunia ini.
Ketika kaki ini berjuang menapaki medan pegunungan yang terjal, lada yang
turun naik memburu asupan oksigen, keringat terasa mengalir melewati dahi dan
hidung, rasa lelah, pegal dan terkadang rasa ingin menyerah melihat medan
didepan mata yang terlihat susah menjadi sangat berarti ketika kita memahami
untuk apa Tuhan membuat kontur alam seperti itu. Semua keluhan dan penat yang
menyergap seketika akan lenyap ketika kita melihat suguhan keindahan yang
diberikan oleh puncak gunung. Hamparan pemandangan dibawah sana, gumpalan awan
yang berada diatas kaki, hembusan angin yang langsung menerpa wajah hingga
sinar matahari yang langsung menyapa merupakan kenikmatan yang sungguh luar
biasa. Kenikmatan yang patut disyukuri. Sebuah kenikmatan yang menyadarkan kita
bahwa Tuhan adalah Maha Segalanya, yang membuat kita sadar bahwa kita hanya
bagian kecil dari dunia ini, seorang manusia yang sungguh bukan apa-apa, yang sangat
tidak patut untuk menjadi sombong. Tak ada satu pun ciptaan-Nya didunia ini yang
tidak bermanfaat. Dia telah menciptakan berbagai macam hal untuk dapat kita “lihat“.
Bukan hanya ketika berada dipuncak, perjalanan menuju puncak pun sama
nikmatnya. Kebersamaan bersama teman-teman, canda tawa, saling memberikan
dorongan dan semangat, uluran tangan untuk menapaki medan yang terjal hingga
sapaan kepada pendaki lain adalah pelajaran yang luar biasa. Ketika dialam,
kita melakukan semua itu. Kita menjadi manusia yang bersatu dengan alam dan
rendah hati. Namun bagaiamana jika kita sudah berada dibawah? Seyogianya semua
itu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya ketika kita berada
dialam bebas.
Tidur dibawah hamparan bintang, menjadi penyapa pertama matahari terbit,
mengucap sampai jumpa kepada matahari terbenam dan menjatuhkan diri diatas
carrier sambil melihat birunya langit ketika rasa lelah melanda adalah hal yang
paling saya suka ketika mendaki gunung. Bahagia. Sederhana.
Lebih dari sekedar keindahan visual, mendaki gunung bahkan mengajarkan arti
kehidupan. Ketika mendaki sebuah gunung, berbagai rintangan akan dihadapi,
mulai dari medan yang sulit dilalui, tanjakan yang menghadang, cuaca yang tidak
bisa diprediksi, gangguan binatang dan serangga, arah track yang kadang tidak
jelas, keadaan alam yang kadang tidak bersahabat, itu semua mau tidak mau harus
kita lewati. Berat memang, namun perlahan tapi pasti, dengan kepala yang
tertunduk, mata yang siaga dan kaki yang berjuang dilapisi tekad, keyakinan dan
doa akhirnya kita pasti sampai dipuncak. Begitu juga dengan hidup. Ketika kita
memiliki suatu keinginan, suatu cita-cita dan impian, untuk bisa meraihnya
dibutuhkan perjuangan. Dibutuhkan tekad, keyakinan, doa dan usaha. Dalam
menggapai mimpi itu tentu akan ada banyak rintangan, godaan dan kesulitan yang
dihadapi, namun jika kita bisa melewati semua itu, tentu kita akan sampai juga
pada puncak keberhasilan. Setelah menikmati puncak gunung yang begitu indah,
kaki belum berhenti melangkah sampai disitu, kita masih harus berjalan kembali
kebawah. Dengan diawali doa, kepala yang tetap tertunduk dan kaki yang menopang
2 kali berat tubuh mengajarkan, bahwa ketika kita telah berada dipuncak kesuksesan
dalam hidup, kita harus tetap rendah hati, menundukkan kepala dan menjadi
pribadi yang lebih baik karena kita tahu bagaimana perjuangan untuk sampai
kepuncak.
Setiap orang memiliki
caranya masing-masing untuk menikmati hidupnya. Cara menjadi tidak lagi penting
ketika kita tahu maknanya. Eksistensi menjadi tidak lagi penting ketika kita tahu
esensinya.
Bersyukur.
Bersyukur atas semua
nikmat yang telah Dia berikan. Allah Maha Besar. Allah Maha Besar. Semoga
tulisan ini menjadi jawaban untuk teman-teman yang sering bertanya mengapa saya
suka mendaki gunung. This is my own way to enjoy the life. Show your passion
and have fun with it :)
Walaupun rencananya mendadak, akhirnya ngebolang ke Cikuray jadi juga. Tim
kali ini berjumlah 4 orang. Saya, Dara, Lia dan yang paling ganteng Didin :D
Jam 10 malem start berangkat dari Bandung menuju terminal Lewi Panjang. Setelah
menunggu sekitar 15 menit akhirnya nemu juga elf jurusan Garut. Sekitar jam 2 malem
nyampe di Garut, tepatnya di Patrol, jalan utama menuju gunung Cikuray. Sambil
istirahat di masjid, kita juga bongkar carrier sekalian ngecek perlengkapan
karena sehabis shalat subuh kita bakal langsung muncak.
Adzan subuh pun berkumandang. Setelah shalat berjamaah bersama warga
setempat, tanpa dipanggil pun abang-abang ojek udah nyamperin. Setelah semua
siap, meluncurlah kami menuju pemancar, tempat start pendakian gunung Cikuray.
Udara kota Garut yang super dingin tidak mengalahkan semangat kami untuk
menaklukan gunung tertinggi ke-4 di Jawa Barat ini. Belum apa-apa pemandangan
yang disuguhkan sudah membuat mata kami tersenyum. Aktivitas warga dipagi hari,
jajaran hutan, lahan pertanian, hamparan kebun teh serta kabut yang bergulung
adalah panorama yang akan ditemui sebelum sampai di pos pemancar.
Setelah mengisi administrasi dan sarapan terlebih dahulu, tepat pukul 06.30
dengan diawali doa, langkah pertama kami pun dimulai. Tantangan pertama adalah
kebun teh, yang tanjakannya lumayan bikin ngos ngosan. Baru start nih udah
dikasih tanjakan. Setelah itu kami melewati kebun kol yang tengah ranum dan
siap untuk dipanen, lalu hamparan ilalang dan padang rumput adalah vegetasi
terakhir yang ditemui sebelum akhirnya benar-benar memasuki gunung Cikuray.
FYI, dari mulai kebuh teh sampai padang rumput itu semua tanjakan. Teman kami, Lia,
ini merupakan pendakian pertamanya, sempat menyerah dan ingin pulang lagi ketika
melihat semua tracknya berupa tanjakan. Namun berkat dorongan semangat akhirnya
dia mau lanjut juga. SEMANGAT BUN!! Hehe...
Oke, sekarang kami berada dimulut gunung Cikuray. Pendakian sesungguhnya
dimulai dari sini. Bismillahirahmanirrahim, dengan semangat dan keyakinan yang
kuat kami pun mulai mendaki. Apa yang dikatakan orang-orang ternyata benar,
medan pendakian gunug Cikuray semuanya berupa TANJAKAN. Asli gak ada bonus gan.
Males deh pokoknya kalo ngeliat keatas, sakit leher. Hehe.. Tapi tanjakan gak
akan membuat kami menyerah begitu saja. Langkah demi langkah pun kami jajaki.
Sampai di pos 1, kabut dibelakang kami masih membayangi. Dingin tapi asli keren
dan seger banget.
Setelah foto-foto di pos 1 pendakian kami lanjutkan. Sampai di pos 3 ketika
kami istirahat, kami sempat bertemu dan mengobrol dengan para pendaki lain yang
turun. Lalu kami pun pamit untuk menuju pos selanjutnya. Pos 4, pos 5 hingga akhirnya
sampailah kami ke pos 6 setelah melewati tanjakan dan akar-akar pohon dibawah
sana. Matahari sudah berada diatas ketika kami tiba di pos 6 ini. Ternyata kami
sudah berjalan sekitar 5 jam. Cukup membuat lelah dan lapar. Akhirnya kami stop
dulu di pos 6, selonjoran, ngobrol, ngemil, tiduran dan "ribut"
gara-gara burung. Hahaha
Pendakian kami lanjutkan untuk menuju pos terakhir sebelum akhirnza sampai
dipuncak Cikuray. Well, dari pos 6 ke pos 7 seperti sebelumnya, tanjakan,
tanjakan dan tanjakan. Dan kali ini lebih curam. Tak jarang ketika kami
melangkah keatas, tangan pun ikut bermain peran dengan memegang akar pohon.
Alhamdulillah gak ada hujan yang turun, karena medan cukup licin. Gak tau deh
kalo misalnya hujan -..- Stamina terkuras dan keringat sudah membanjiri badan
tapi puncak belum juga terlihat. PHP PHP PHP! Tapi itu
justru membuat kami semakin penasaran. Pemandangan apa yang akan disuguhkan
puncak Cikuray kepada kami setelah melewati medan yang menguras energy ini.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah akhirnya sampai jga di pos 7. YEEEE!!!!
Ternyata masih belum puncak. Hahaha. Kami harus terus berjalan untuk menuju
puncak, tinggal sedikit lagi. Dan shalter pun terlihat. 5 meter menuju shalter
puncak Cikuray ternyata terdapat banyak hamparan pohon arben (strawberry hutan).
Subhanallah, saya langsung teringat surah Ar-Rahman “Nikmat
mana lagi yang kau dustakan?” Allah SWT begitu Maha Pemurah. Setelah berjalan
melewati tanjakan curam, kelelahan, capek, langsung dikasih buah yang
menyegarkan. Subhanallah. Berszukur banget deh. Setelah puas makan arben, 5
meter kedepan, akhirnya sampai juga kami dipuncak Cikuray 2.821 Mdpl. Hamparan
kota Garut, ditambah kabut, jajaran puncak gunung Papandayan, Guntur dan
Ciremay adalah pemandangan yang langsung menyambut kami dipuncak. Lelah dan
cape pun hilang seketika. Terbayar semua perjuangan kami. Terimakasih
Allah SWT, You are the perfect creator.
Lempar carrier dan
duduk sejenak memandang semua keindahan ini sebelum kami mendirikan tenda. Udara
dipuncak mulai terasa dingin menusuk. Tenda pun kami dirikan, lalu masak air
untuk membuat mie rebus bersama teman-temannya :D Berada ditengah udara dingin
yang diselimuti kabut emang paling enak makan dan minum yang anget-anget. Setelah perut kenyang dan istirahat kami pun tertidur,
karena dipuncak baru ada kami ber4. Belum ada pendaki yang
lain. Hingga sore menyapa, datang rombongan pendaki lain yang langsung
mendirikan tendanya didepan tenda kami. Saatnya berburu sunset!!! Dengan
mengarah ke gunung Papandayan kami melihat indahnya lembayung senja dan
matahari yang mulai turun ke peraduannya. Sayang karena kabut digunug Cikuray
ini sangat tebal, beserta angin yang bertiup sangat kencang jadi sunsetnya
hanya bisa kami nikmati sebentar. Jam 6 sore kota Garut sudah tidak terlihat.
Kabut dan angin semakin menyelimuti kami. Karena udara yang sangat dingin kami pun memutuskan masuk
kedalam tenda. Ngemil, ngopi, ngobrol dan maen truth or
dare yang bikin ngakak. Hahaha.
Waktu menunjukkan pukul
20.30. Udara semakin dingin dan angin semakin kencang. Tak ada pendaki diluar
sana, semua sudah masuk kedalam tenda masing-masing. Kami pun memutuskan untuk
tidur. Pasang jaket tebal dan sleeping bag, asli masih dingin gan. Lalu, badai
angin pun datang. Tenda yang tertiup angin terdengar sangat menyeramkan.
Rapatkan barisan. Dinggiiiinnn….
Angin malam semakin
memperlihatkan kekuatannya. Dalam
dingin dan doa kami berusaha memejamkan mata dan melemaskan otot yang kaku. Setelah
tertidur, akhirnya pukul 3.30 Dara membangunkan kami untuk melihat sang fajar
keluar. Masih diselimuti rasa kantuk dan dingin kami belum berani keluar. Angin
masih sama ganasnya. Suara tenda kami yang tertiup angin masih sangat
menyeramkan. Setelah semua siap dan nyawa sudah terkumpul semua, sekitar pukul
04.00 kami keluar tenda. Dan... wow. Tidak seperti yang kami bayangkan
sebelumnya. Dinginnya angin yang menusuk telah terkalahkan oleh pemandangan
yang luar biasa indah. Sekali lagi kami ucapkan terimakasih kepada Sang
Pencipta. Hamparan lampu dibawah sana yang menyelimuti kota Garut ditambah
hamparan bintang diatas sana membat kami seolah-olah berada diantara jutaan
bintang yang tengah bersinar. Akhirnya kami memutuskan membawa matras keluar
dan menidurkan diri diluar sini. Terlentang sambil melihat bintang-bintang
adalah salah satu kenikmatan yang tak akan bisa terbayar oleh apapun.
Alhamdulillah. Ketika kami menikmati semua keindahan ini, ternyata ada pendaki
lain yang baru sampai dan langsung mendirikan tenda. Tak lama kemudian sedikit
demi sedikit langit mulai merubah warnanya pertanda sang penerang bumi akan
segera memperlihatkan dirinya. Sungguh indah melihat lukisan alami dari Sang
Pelukis Bumi. Indah sekali. Gumpalan awan yang berada dibawah kaki kami menjadi
keindahan lain yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Lalu sang surya pun
keluar dari peraduannya, menyapa kami segelintir anak manusia yang ingin sekedar
melemparkan senyum kepadanya dipagi buta.
Setelah puas menikmati semua keindahan ini dan mengabadikannya dalam
kamera, pagi pun semakin menyeruak. Para pendaki semakin
ramai dan membuat suasana semakin hangat. Kami pun mulai membuat sarapan.
Setelah semuanya siap, kami semua menyantap masakan kami dengan lahap. Sekitar pukul 09.30 kami sudah mulai membereskan
barang-barang, ganti baju dan bongkar tenda. Lalu setelah ngobrol dan
berpamitan dengan para pendaki yang lain, tepat pukul 10.30 dengan diawali doa
lagi kami mulai menuruni gunung Cikuray, mengucap selamat tinggal dan sampai
jumpa lagi kepada semua keindahan yang telah kami nikmati.
Ketika kami turun kami bertemu banyak pendaki lain yang baru naik, karena
kebetulan besoknya mereka akan mengadakan upacara sumpah pemuda dipuncak
Cikuray. Kami pun sebenarnya ingin ikut serta tapi pekerjaan membuat kami harus
turun hari ini. 1 jam, 2 jam, 3 jam, akhirnya sampailah kami di pos 1.
Perjalanan dilanjutkan hingga kami berhenti lagi dipadang rumput dan ilalang
untuk foto-foto :D Lalu tak terasa kebun kol dan kebun teh sudah berada didepan
kami. Kaki dan jempol kami sudah sangat sakit ketika kami menuruni tanjakan
pertama kami kemarin pagi.
Begitu sampai dipemancar semua langsung berbaring, meluruskan kaki dan
mengambil nafas. Alhamdulillah, God saved us. Perjalanan
pulang belum berakhir sampai disini. Kami harus kembali berjalan untuk sampai
di Patrol. Setelah istirahat cukup, kaki kami un mulai kami seret lagi untuk
melangkah. Medan pertama
adalah kebun teh. Kami berjalan diantara hamparan perkebunan teh yang
menghijau. Matahari mulai menyengat. Cukup jauh kami berjalan hingga kami
bertemu satu perkampungan. Karena jalan yang kami ambil berbeda dengan jalan
yang kami lalui kemarin ketika datang, walhasil sempat sedikit bingung juga mesti
ambil arah yang mana. Beruntung kami bertemu warga, setelah bertanya kami pun
mulai berjalan lagi dengan kondisi kaki yang terasa semakin sakit. Tapi
lagi-lagi ini membuat kami menjadi semakin bersyukur atas semua nikmat yang
Allah SWT berikan. Medan yang kami lalui sangat indah.
Setelah kebun teh berakhir, kami berjalan melewati perkebunan warga. Ada
kebun cabe, kacang, serta kebun tomat yang siap panen. Bikin ngiler banget
ngeliat buah-buah tomat yang matang segar dipohonnya. Lalu kami mulai memasuki
persawahan yang lagi-lagi siap panen. Jenis padi yang ditanam dikampung ini
adalah beras merah dan beras ketan. Hamparan padi, aktivitas para petani dan
segerombolan anak kecil yang berlari dipematang sawah sambil memegang layangan
adalah obat lelah kami. Semua ini sudah cukup membuat kami tersenyum. Sungguh, jika
kita melihat dunia ini dari sisi yang lain, maka kita akan banyak sekali bersyukur.
Ketika kami berjalan melewati hamparan sawah tiba-tiba terdengarlah lagu
india berkumandang. Walhasil kami pun ikut bernyanyi india ditengah sawah.
Kurang india gimana coba. Hahaha. Akhirnya setelah melewati perkampungan
sampailah kami dijalan raya. Kaki pun masih harus bekerja hingga kami sampai di
Patrol. Namun sebelum sempat sampai ke Patrol ada bapak yang baik hati
menawarkan kami tumpangan menaiki mobil bak terbukanya. Tanpa basa basi kami
pun menumpang. Lega rasanya, waktunya istirahat untuk si kaki. Mobil pick up
pun berhenti di daerah (lupa namanya). Setelah mengucapkan terimakasih kami pun
mencari jajanan, karena gak nemu bakso, mie ayam pun kami sikat :D Lalu kami
memutuskan pergi ke terminal Garut untuk pulang kembali ke Bandung.
Alhamdulillah. Bertambah lagi satu pengalaman dan pelajaran hidup. Bisa
menikmati keindahan alam yang telah Allah SWT cipatakan membuat kami
benar-benar merasa kecil. Sungguh tak ada satu pun yang pantas untuk kami
sombongkan didunia ini. Kami hanya segelintir anak manusia yang
ingin bersatu dengan Tuhannya. Itu saja.
Terimakasih. Sampai
jumpa pada perjalanan kami yang selanjutnya. Keep nature clean and save earth
from the bastards! SALAM LESTARI!!!
Thank us buat bapake,
si consina nya aman kok. Hehehee.
Cepet pulang, Dieng udah nunggu.
Assalamualaikum...
Saya seorang mahasiswa yang sedang merantau di Eropa, tepatnya di Jerman. Sudah hampir satu tahun saya disini. Rencananya awal Agustus nanti saya mau pulang ke Indonesia. Berhubung waktunya mepet saya jadi harus cepat-cepat membeli tiket pesawat ke Indonesia. Karena saya tidak mempunyai ATM di Jerman, jadi teman saya yang mambantu membooking tiket pesawat. Uang saya didompet ada 700€. Tiket pesawat ternyata 660€ (sudah mahal karena waktunya mepet. Normalnya 500
€). Jadi uang saya tinggal 40€. Ditambah pulsa habis, jadi ya terpaksa beli pulsa 15€. Nyisa 25€ deh didompet.
Disisi lain, teman-teman dekat saya kebetulan merencanakan buka bersama sekalian saling mengunjungi dan main ke Berlin. Ingin sekali rasanya ikut, tapi dengan uang 25€ gak akan cukup.
Hingga kemarin siang ketika saya membuka twitter, berkunjunglah saya ke twitternya Ust. Yusuf Mansur (emang biasa ngepoin twitter ustad, hehee). Disitu ada twitternya beliau yang ini → "Punya hajat? Masalah? Baca 100 shalawat dah. Saya temenin bacanya. Skrg ya.. Hbs itu doa dah. Doanya saya aminin dari sini. Mulai aja". Jadilah saya baca shalawat 100 kali terus doa. Kemaren itu doanya pengen ikut anak-anak buka bersama, tapi ga ada uang ya Allah. Gak tau gimana caranya. Saya serahkan pada-Mu. Udah.
Sore harinya ketika saya ngabuburit, saya ngeliat ada pengemis. Inget lagi ilmu dari Ust. Yusuf Mansur. Apalagi kalau bukan sedekah. Lalu saya putuskan ngasih 5€. Terus lanjut jalan-jalan (ngabuburit).
Hari ini, sekitar jam 10 pagi saya rencananya mau bayar uang tiket pesawat ke temen saya yang ngebookingin itu. Pas saya mau bayar, tiba-tiba dia bilang "Eh udah gak usah diganti uang tiket pesawatnya. Itu buat kamu".
Subhanallah... Allahuakbar...
Doa saya diijabah langsung. Sedekah 5€, uang 660€ gak jadi keluar :) Akhirnya besok saya bisa ikut buka bersama bersama teman-teman saya. Terimakasih Allah SWT Maha Pemberi Rizki. Terimakasih juga Ust. Yusuf Mansur atas ilmu-ilmunya. Semoga Allah SWT selalu memberkahi :)
Happy fasting all!!!